Sejarah
Berdirinya IKMAL (Ikatan Mahasiswa Intelektual)
*Oleh: H
bermula
dari sebuah pemikiran seorang senior alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
yang miris melihat peredaran para mahasiswa mahasiswi yang mulai melupakan adat
kehidupan sebagai seorang (maha) siswa. Lebih berorientasi pada ranah kehidupan
politik kampus dibandingkan dengan menjaga
kebiasaan kaum pelajar yang bersifat akademis, yakni berdiskusi. Dari
pemikiran yang tak bisa dianggap remeh tersebut muncullah suatu gagasan
mengumpulkan sekelompok manusia-manusia (mahasiswa tentunya) yang masih
memiliki rasa solidaritas terhadap tradisi membaca. Beberapa nama akhirnya ditarik untuk
mewujudkan mimpi yang begitu elegan ini. Mochamad Shofwan Nidhami, Muhammad Nur
Subhan Fisabilillah Miswin, Kholis Bidayati, Rabiatul Adawiyah, Fatiah Khadijah,
Mella Rosydiana, Anisaul Khoiriyah dan Fachra Irfania berhasil mengantarkan visi besar ini dari
alam idea menjadi alam nyata.
23
November 2013, hari yang begitu bersejarah, dengan tempat yang tak bisa
dibilang mewah, dan tekad yang tak mungkin dihitung murah, sekedar
berduduk-duduk melingkar di serambi Masjid Fathullah tujuh insan didampingi seorang penggagas
pertama (Bapak Ainul Yaqin, S.HI) akhirnya dimulailah kegiatan rutin diskusi abal-abal
(pada saat itu) dengan buku pertama yang dikaji. Sebuah buku dengan 191
halaman, bersampul coklat karangan Founding Father kita yaitu Moh. Hatta
yang berjudul Alam Pikir Yunani akhirnya disepakati untuk diselami
bersama setiap malam sabtu.
Beberapa
bulan berselang, pada kenyataannya anggapan bahwa mulai menipisnya kelompok
yang tidak peduli dengan kegiatan
diskusi nampaknya mulai menghilang. Kajian yang awalnya hanya dihadiri tujuh
orang setiap minggu itu semakin bertambah rakyatnya. Untuk kemudian beberapa
diantaranya berasal dari sekelompok organisasi yang bernama PII (Pelajar Islam
Indonesia) yang sampai saat ini masih dan semakin berperan aktif dalam
kegiatan.
Terinspirasi
dari PII inilah akhirnya mulai muncul pemikiran dibutuhkannya sebuah nama untuk
organisasi yang masih bisa dibilang seumur jagung ini. Setelah melewati masa
yang panjang dan beberapa usulan nama
dari sekian anggota, akhirnya diputuskan IKMAL (Ikatan Mahasiswa Intelektual)
lah yang dirasa pantas untuk menjadi nama sebuah kegiatan yang akhirnya
beranggotakan orang-orang (mahasiswa maupun pelajar) yang bahkan bukan hanya
dari UIN Jakarta saja.
