Selasa, 03 Juni 2014


Sejarah Berdirinya IKMAL (Ikatan Mahasiswa Intelektual)
*Oleh: H

bermula dari sebuah pemikiran seorang senior alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang miris melihat peredaran para mahasiswa mahasiswi yang mulai melupakan adat kehidupan sebagai seorang (maha) siswa. Lebih berorientasi pada ranah kehidupan politik kampus dibandingkan dengan menjaga  kebiasaan kaum pelajar yang bersifat akademis, yakni berdiskusi. Dari pemikiran yang tak bisa dianggap remeh tersebut muncullah suatu gagasan mengumpulkan sekelompok manusia-manusia (mahasiswa tentunya) yang masih memiliki rasa solidaritas terhadap tradisi membaca.  Beberapa nama akhirnya ditarik untuk mewujudkan mimpi yang begitu elegan ini. Mochamad Shofwan Nidhami, Muhammad Nur Subhan Fisabilillah Miswin, Kholis Bidayati, Rabiatul Adawiyah, Fatiah Khadijah, Mella Rosydiana, Anisaul Khoiriyah dan Fachra Irfania berhasil mengantarkan visi besar ini dari alam idea menjadi alam nyata.
23 November 2013, hari yang begitu bersejarah, dengan tempat yang tak bisa dibilang mewah, dan tekad yang tak mungkin dihitung murah, sekedar berduduk-duduk melingkar di serambi Masjid Fathullah  tujuh insan didampingi seorang penggagas pertama (Bapak Ainul Yaqin, S.HI) akhirnya dimulailah kegiatan rutin diskusi abal-abal (pada saat itu) dengan buku pertama yang dikaji. Sebuah buku dengan 191 halaman, bersampul coklat karangan Founding Father kita yaitu Moh. Hatta yang berjudul  Alam Pikir Yunani  akhirnya disepakati untuk diselami bersama setiap malam sabtu.
Beberapa bulan berselang, pada kenyataannya anggapan bahwa mulai menipisnya kelompok yang  tidak peduli dengan kegiatan diskusi nampaknya mulai menghilang. Kajian yang awalnya hanya dihadiri tujuh orang setiap minggu itu semakin bertambah rakyatnya. Untuk kemudian beberapa diantaranya berasal dari sekelompok organisasi yang bernama PII (Pelajar Islam Indonesia) yang sampai saat ini masih dan semakin berperan aktif dalam kegiatan.
Terinspirasi dari PII inilah akhirnya mulai muncul pemikiran dibutuhkannya sebuah nama untuk organisasi yang masih bisa dibilang seumur jagung ini. Setelah melewati masa yang  panjang dan beberapa usulan nama dari sekian anggota, akhirnya diputuskan IKMAL (Ikatan Mahasiswa Intelektual) lah yang dirasa pantas untuk menjadi nama sebuah kegiatan yang akhirnya beranggotakan orang-orang (mahasiswa maupun pelajar) yang bahkan bukan hanya dari UIN Jakarta saja. 

LANJUTAN PANDANGAN HIDUP TAN MALAKA

Oleh: RA & KH

1.    Animisme
Perbedaan alam sekitar antara masyarakat yang satu dengan yang lain membedakan cara pandang masyarakat Indonesia, antara Indonesia yang beradab dengan Indonesia primitif. Kepercayaan masyarakat primitif terhadap hal-hal yang berbau mistis seperti pohon besar, hutan rimba dll membuat manusia menjadi kecil dan tak berdaya menghadapi serta mengatasi alam. Sehingga pada masa inilah berlaku hukum dialektika, yakni perubahan bilangan sedikit demi sedikit, lama kelamaan menjadi pertukaran sifat (quantity into quality). Manusia primitif percaya bahwa segala sesuatu itu mengandung jiwa, bernyawa. Paham ini oleh para ahli dinamakan kepercayaan animisme. Dengan itu manusia primitif memuja pada salah satu hal yang dianggap paling kuat.
Ketika manusia dibelahan bumi lain telah maju dengan menjinakkan alam, menjadikan alam tunduk pada kebutuhan manusia. Banyak suku-suku primitif dan pedalaman di Indonesia yang masih berkutat dengan kepercayaan animismenya.


2.    Kepercayaan India
Penyerangan bangsa Arya kepada bangsa asli india (Dravida) menyebabkan dampak yang sangat luar biasa pada perbendaharaan agama di negara tersebut. Perpaduan dua budaya lantas menghasilkan suatu agama yang kemudian disebut dengan Hindu. Pada masa itulah berkembang yang namanya sistem kasta. Mulai dari kasta Brahmana yang terdiri dari pendeta-pendeta yang mengajarkan ajaran Hindu. Kasta Ksatria sekelompok prajurit yang bertugas memerangi segenap pemberontak yang menentang kasta Brahmana (yang sering kita sebut dengan kasta Sudra), serta kasta Waisya yang terdiri dari pedagang-podagang serta wirausahawan sejenisnya. Dari sinilah mulai muncul gagasan dari seseorang yang bernama Sidarta Ghautama yang mempelopori penolakan terhadap kebudayaan kasta yang tengah merajalela saat itu. Sehingga golongan yang mendukung gerakan Sidarta tersebut disebut dengan kelompok Budhisme yang kemudian menjadi ajaran agama Budha.

Senin, 02 Juni 2014

Pandangan Hidup Tan Malaka


(Mengulas)
PANDANGAN HIDUP
TAN MALAKA (1948)
Oeh: RA
1.    Manusia Monyet
Kesimpulan dari keterangan tan malaka tentang manusia monyet bahwasanya Indonesia yang mana merupakan tempat/daerah dengan penemuan fosil terbanyak menunjukkan bahwa Indonesia pernah menjadi pusat kebudayaan pada zaman dahulu.
2.    Indonesia Sederhana
Indonesia dengan kekayaan alamnya yang tak pernah habis sangat memanjakan penghuninya, rakyat Indonesia tak perlu bersusah payah memutar otak untuk sekedar makan karena alam sudah menyediakannya lebih dari cukup, seperti orang dayak, kubu, semang dll dimana merupakan masyarakat yang masih primitif. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia terbuai dengan kekayaan alamnya dan tidak ada usaha untuk berkembang menjadi lebih dari itu. Itulah yang kemudian disebut sebagai kodrat pendorong. Karena jika alam indonesia tandus sudah pasti rakyat Indonesia mengerahkan segala cara hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehingga tumbuh rasa untuk berkembang menjadi lebih baik dan maju.

Pandangan Hidup Tan Malaka